Normalisasi Sungai Batang Sangir Timbulkan Bahaya

Normalisasi sungai menjadi proyek baru di Kota Batang Sangir dipastikan menimbulkan bencana di lingkungan warga. Bagaimana bisa hal ini menjadi sebuah masalah, memang belum kita ketahui pasti. Klarifikasinya adalah banyak tanaman yang rusak ditutup ketika barang-barang penting berfungsi. Sudah pasti warga tidak senang sehingga banyak mengeluhkan kejadian malang menimpa. Hal itu diketahui saat media ini menyimak kawasan usaha tersebut pada Kamis malam. Sebab jumat pagi warga sudah pada sibuk mempersiapkan diri untuk sholat jumat.

Normalisasi Sungai Batang Sangir Timbulkan Bahaya

Hingga diperoleh informasi dari pemilik tanaman kentang tertutup tersebut, seorang ibu rumah tangga sempat menitikkan air mata. Si ibu menangis tersedu dengan deras seraya meratapi nasib buruknya. Dia mengatakan kepada media ini bahwa dia baru saja memiliki beberapa pabrik di tepi sungai. Padahal, menurut peraturan pemerintah jelas sudah melanggar aturan. Sejujurnya, itu menyakitkan ketika hal-hal penting sedang berjalan sehingga kami benar-benar merasa bingung. Maka dari itu, lupakan sajalah rencana ekspansi dari kota ke desa yang mana dapat mengganggu kententraman warga.

Meskipun kesalahan ini signifikan, mengingat lingkungan sekitar tujuannya adalah untuk mengatasi banjir. Mungkin pada dasarnya hasil panen kita tidak boleh dirugikan. Jelas tidak mungkin jikalau kita mengambil keuntungan berdasarkan penderitaan orang lain. Karena kita hanya punya dua atau tiga tanaman, bukan berarti kita mendambakan kegigihan. Terkadang pun ingin rasanya beristirahat sejenak dari masalah bertubi-tubi. Bagaimanapun, kalau baru-baru ini terluka, jelas kami tidak akan mengakuinya, begitu ujarnya masyarakat desa.

Usaha Normalisasi Sungai Tidak Resmi dan Rugikan Warga

Selain itu usahanya normalisasi sungai juga tidak menggunakan tanda papan nama sehingga diyakini adanya ketidakjelasan terhadap lingkungan sekitar. Apalagi, terlihat beberapa anjing penjaga berkeliaran sambil menyalak keras. Memang tidak terlihat volumenya berapa, nama perusahaannya apa, tapi yang jelas menurut penyewa mengakui hal tersebut. Sudahlah bahwa para pekerja dibawa oleh kepala kota ke daerah tersebut untuk mengalirkan dana ke kantong pribadi.

Bazuki selaku Kepala Kota Batang Sangir sedang tidak ada di rumah saat awak media ini menjenguknya di rumahnya. Kemungkinan perbuatan tak terpuji sudah ia lakukan secara diam-diam. Memang sekilas terlihat warga akan tinggal diam, namun nyatanya tidaklah demikian. Tidak sepenuhnya dipastikan bahwa hal itu terkait dengan kerusakan tanaman penyewa. Ketika tiba melalui pengalihan elektronik tidak ada tanggapan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada reaksi dari ketua rombongan. Perjuangan tim wartawan tidak akan berhenti begitu saja, apalagi sudah banyak pengorbanan untuk menyambangi rumah si kades.

Pelestarian lingkungan menjadi tanggung jawab bersama dan bukan hanya demi kepentingan segelintir orang saja. Seharusnya kita menyadari hal tersebut karena sudah diajarkan oleh guru semenjak masih di sekolah dasar. Apabila kita masih menutup mata, maka anak cucu kita di masa depan akan menanggung akibatnya.