Aliran Sungai Jambi Batanghari merupakan satu hal yang selalu menjadi rujukan warga saat membicarakan hal tersebut. Sungai yang bermula dari Sumatera Barat hingga ke Jambi ini dulunya merupakan tempat orang-orang menyumbangkan tenaga semasa muda. Saat ini, penghuninya bahkan tidak mau berenang di sana karena airnya yang kecil dan tidak bersih.
Patut disyukuri, kenangan abadi kembali terlintas di benak Sambawi HB (69) saat mendapat sejumlah data tentang Aliran Batanghari. Kisahnya berkisar dari tahun 1980-an hingga tahun 2020-an dan bahkan hingga kehidupannya sendiri sebagai remaja pada tahun 1950-an. Pada dasarnya, Sambawi mengetahui betul perkembangan aliran sungai ini selama beberapa tahun terakhir.
Rumah Sambawi dulunya ditata di tepi aliran sungai Batanghari. Mereka tinggal di sana sejak tahun 1950-an, dan tidak lama kemudian pindah pada tahun 1980-an karena daerah tepian sungai sering mengalami longsor yang sangat deras. Sambawi saat ini condong ke arah sungai, meski rumah baru mereka saat ini jauh dari bantaran sungai.
Dalam ingatannya, Aliran Sungai Batanghari yang panjangnya 800 kilometer menjadi titik pertemuan warga. Mencuci, berenang, bermain, dan minum dilakukan di sungai.
Ia juga mengenang bahwa penangkapan ikan di perairan itu sangat rutin. Dulu, ada orang-orang tertentu yang menangkap ikan dengan tombak karena airnya sangat jernih.
Dahulu Banyak Ikan Melimpah Di Aliran Sungai Jambi Batanghari
Dahulu banyak ikan yang hidup di aliran sungai Jambi sebab ia merupakan salah satunya adalah ikan lele siam (Trichopodus pectoralis). Sambawi dan keluarga tak perlu repot mencari lauk pauk untuk disantap. Dia seharusnya pergi ke sungai di belakang rumah dan menangkap ikan, sementara anggota keluarga yang lain perlu menyiapkan rasa untuk memasak. Ditambahkannya, mengingat banyaknya ikan di aliran sungai, masyarakat bisa dengan cepat mengambil 10 kilogram ikan dalam sekali tangkapan.
Selain ikan, kawasan Aliran Batanghari juga pernah ditumbuhi berbagai pepohonan alam. Masyarakat yang melakukan amalan di sekitar aliran sungai tidak perlu khawatir akan kelaparan karena alam telah menyediakan makanan dan minuman.
Kondisi sungai yang dilindungi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990an. Salah seorang warga Peduli Remaja Normal Muara Jambi, Muhammad Amin (30), mengaku ingat betul betapa asyiknya bisa andal bermain di Aliran Batanghari. Sebelum pergi ke kelas, dia pergi ke sungai untuk membersihkan diri. Karena pulang dari sekolah, dia pergi ke sungai lagi untuk berenang.
Aliran Batanghari terus berubah akibat langsung dari penggundulan hutan dan polusi, termasuk penambangan emas, pasir, dan batu. Toilet yang dibangun di atas sungai juga menambah pencemaran sungai.
Air sungai saat ini kecil dan penuh dengan sampah. Bantaran sungai saat ini belum dimanjakan dengan pepohonan. Sungai tersebut saat ini bukan tempat untuk mencuci dan bermain. Ikan-ikan yang dulunya merupakan sumber rezeki bagi masyarakat kini hanya sesekali ditemukan di aliran sungai.